Ibu, aku menyayangimu. Di usiamu yang sudah menginjak 50 tahun, aku tau bagaimana khawatirmu padaku. Anak perempuan terakhirmu ini.
Ibu, aku tau, aku putri terakhir di keluarga ini, yang bisa di bilang sudah satu-satunya, sebab kakak sudah berumah tangga. Itu sebabnya, engkau sangat khawatir akan diriku.
Tapi ibu, aku juga ingin menggapai mimpiku. Aku ingin menjelajah masa mudaku. Ibu, aku sudah 20tahun, bukan lagi usia anak kecil. Aku sudah dewasa ibu, putri kecilmu yang dulu ini sudah dewasa. Aku sudah tidak bisa lanjutkan pendidikanku. Di usiaku yang segini, aku sudah harus mencari pekerjaan yang sesuai untukku. Aku tidak seperti mereka yang bisa kuliah. Tidak, aku tidak menyalahkan perekonomian keluarga kita. Tapi aku hanya ingin ibu mengerti, aku juga punyai mimpi. Pekerjaan bukan hanya tentang uang ibu, pekerjaan tentang bagaimana hati bisa sesuai dengan keadaan tempat kerja.
Sekarang aku sudah bekerja, ditempat yang engkau pilihkan. Bukan aku yang memilih, tapi engkau. Ibu, aku tidak suka tempat ini, aku tidak suka pekerjaan ini. Tapi, kau selalu memintaku untuk bertahan. Bukankah aku yang melakukan pekerjaan ini? Ibu, aku menghargai usahamu untuk mencarikanku pekerjaan. Tapi sungguh, aku tidak bisa bertahan lebih lama di tempat ini.
Ibu, mungkin, untuk urusan pendidikan engkau yang memilih, tapi untuk urusan pekerjaan dan mimpiku, aku tidak bisa menyerahkan padamu.
Ibu, bisakah kau mengerti? Aku pernah meninggalkanmu untuk sebuah pekerjaan yang sangat aku cintai, tapi aku harus kembali demi untuk tidak meninggalkanmu. Sekarang, dengan sangat berat hati, aku tidak bisa menuruti inginmu untuk melanjutkan pekerjaan yang sangat menyakitkan hati ini. Maaf ibu, untuk sekali ini, aku tidak bisa patuh padamu. Tapi, percayalah, aku menyayangimu.
Sabtu, 29 Oktober 2016
Ibu, aku tidak ingin membuatmu khawatir, tapi cobalah mengerti inginku juga.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar